Sabtu, 05 Desember 2015

You Are Mr. Arrogant BAGIAN 2. SANG PEMECAH KASUS



Terima kasih telah bersedia membaca cerita saya. Saya tau masih banyak kekurangan di dalamnya. Saya akan berusaha lebih baik di setiap bagian selanjutnya. Happy reading, :)
****
Vanny POV
Ku tatap langit malam ini dari jendela kamar. Cuaca sedang kurang bersahabat. Sudah satu minggu ayah pergi ke luar kota. Membantu kantor kepolisian yang sedang kekurangan tenaga kerja seorang detektif. Brush Grim silvie,nama ayah ku.
Sejak masih muda ayah sudah mengabdikan diri pada negara. itu lah yang beliau katakan, aku sangat menghormatinya. Ketegasannya dalam mendidik dan membesarkan ku adalah salah satu dari kebanggan ku padanya.
Ibu ku? Beliau sudah meninggal sejak aku kecil, ayah tidak pernah memberitaukan penyebabnya. Dan aku tidak ingin membicarakannya, masa lalu biarlah masa lalu. Aku hanya tidak ingin menambah beban di pundak ayah.
Ayah adalah tipe orang yang tidak pernah ragu antara keluarga dan pekerjaan. Bersikap profesional di manapun berada,itu membuatnya menjadi detektif legendaris yang tidak pernah berhenti menjadi berita hangat di setiap kantor kepolisian.
Dan aku anaknya satu satunya, meneruskan bakat beliau. Stevanny silvie,nama ku. Saat ini aku masih duduk di bangku kelas dua Sekolah menengah atas. Tapi, tidak terhitung berapa kasus yang aku pecahkan . Kantor tempat ayah bekerja akan memanggil ku jika ayah dinas keluar seperti sekarang. Dan saat ini aku merasakan firasat akan terjadi kasus tidak lama lagi.
**** 
Pukul 12.15
Kriiingg... Kriiingg...Kri
Aku dengan segera mengangkat gagang telpon di atas meja sebelah kasur ku. Brisik sekali tengah malam begini, menggangu saja.
"Ha...."
"Vanny! Segera bersiaplah,aku akan sampai di sana lima menit lagi!"
Tut..tut..tut..
Sial, aku bahkan belum sempat bicara. Dengan segera aku berlari ke kamar mandi. Aku yakin, barusan adalah Ray jovan,rekan ayah. Dia akan seperti itu jika terjadi kasus. Sepertinya firasat ku benar terjadi.
****
"Jadi, apa yang terjadi kali ini?" Aku sudah berada di dalam mobil Ray. Aku memanggilnya begitu karna dia belum setua ayah. Masih berumur dua puluhan, dan dia yang meminta ku memanggilnya begitu.
"Kasus pembunuhan,di club malam. Daerah distrik 12. Pak komisaris dan tim lainnya sudah berangkat kesana."
Jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Dia itu orang yang jutek dan agak cuek. Tampang kunyel seperti tidak pernah mandi, rambut acak-acakan. Tapi tampangnya cukup lumayan. Aku cuma bilang lumayan ya.
"Hmm, pembunuhan?" Aku sedikit menarik sudut bibirku. Baguslah, ini akan sedikit menghilangkan rasa bosan ku.
Aku bisa melihat ray melirik ke arah ku, saat aku melihat ke arahnya dengan buru-buru dia membuang muka. Apaan dia itu?
****
Author POV
Setibanya di TKP.
Garis kuning , cahaya blitz kamera, dan suara bisik-bisik memenuhi keseluruhan club. Tidak ada aktivitas seperti club biasanya. Semua orang terlihat murung dan tidak bersemangat. Mungkin mereka takut club ini akan di tutup. Selamanya!
Polisi berada di sana sini mencari petunjuk dan saksi. Vanny sudah biasa melihat ini, dengan santainya dia menuju ke arah mayat korban.
Vanny memandangi mayat wanita itu. Cih, ini sangat mudah, katanya. Pembunuh amatir, cukup pintar, namun kurang rapi.
"Siapa orang ini?" Kata vanny sambil melirik ke arah Ray yang entah sejak kapan memegang kertas kertas seperti dokumen.
"Serafina vilva, berumur 26 tahun. Belum menikah. Tidak ada catatan kelurga. Dia adalah salah satu dari wanita penghibur di sini. Tidak ada yang spesial. Kemungkinan hanya pencurian biasa." Jelas Ray panjang lebar.
"Hmm, atau mungkin si pembunuh ingin kita berpikir begitu" kata Vanny sambil mengangguk anggukan kepala. Ray memandangi wajah Vanny. serius? Gadis itu selalu bicara hal yang aneh.
"Apa maksud mu?" Ray tidak melihat Vanny akan membalas ucapannya, gadis itu sudah sibuk menganalisis mayat. Terkadang Ray heran, gadis apa dia? Bahkan tidak gentar sedikit pun melihat mayat tak bernyawa.
****
Vanny POV
Serafina, nama yang cantik. Sayang kurang beruntung, dia tidak akan bisa melihat matahari lagi besok. Di lehernya ada bekas jeratan, hanya memerah, tidak sampai membiru.
Menurut pengalaman kasus pembunuhan beberapa bulan lalu, jika kematian di sebabkan jeratan akan ada bekas membiru di sekitar leher. Karena pernapasan akan berhenti.
Aneh, apa mungkin penyebabnya bukan ini? Dan dari posisinya, aku yakin lokasi kejadian bukan di dalam bilik. Duduknya memang rapi, tapi kepalanya yang menyender di dinding bilik adalah pertanda dia di dudukkan di situ.
Aku mengeratkan sarung tangan khusus di telapak tanganku. Menjulurkan telunjuk ku ke arah leher yang memerah. Tidak ada denyut,tentu saja. Aku menekan sedikit di bagian lain. Tidak ada daging lembek, bekas jeratan yang kuat hingga menyebabkan kematian.
Aku yakin dengan insting ku, penyebab kematian bukan jeratan. Tapi hal lain. Aku hanya perlu memeriksa sedikit bagian tubuh lainnya.
Aku menoleh ke belakang. Dan, demi tuhan. Ray berdiri tepat di belakang ku dan sedang melihat ku. Apa yang dia lakukan, dasar.
"Ray!! Apa yang sedang kamu lakukan?" Aku menekan setiap kata. Harusnya dia tau apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Apa?" Tanyanya dengan muka malas, demi tuhan. Pantas dia tidak pernah naik pangkat.
"Pergilah keluar dan carikan aku saksi! Kau di sana seperti patung kau tau"
"Baiklah baiklah" Ray, kau itu bodoh atau apa sih. Menyebalkan sekali.
****
Krieett,,,
Aku sedang membuka pakaian depan korban saat ku dengar bunyi pintu yang terbuka. Dengan terburu-buru aku segera menutup kembali baju itu. Aku yakin itu Ray, siapa lagi memang yang bisa masuk kemari kalau bukan dia.
"Apa kau sudah menemukan saksi yang tepat?" Kata ku tanpa menoleh ke belakang.
"Ehmm, maaf?" siapa itu? Suara siapa itu? Itu bukan Ray. Aku langsung membalikkan tubuhku. Dan, aku terdiam..
1detik..2detik..3detik..
"Apa nona adalah detektif?"
Aku tersadar dan segera berpaling. Gawat, aku tau siapa dia. Leonardo cristy. kalian ingin tau bagaimana aku kenal dia? Yes, of course. Karna aku satu sekolah dengannya.
Apa yang dia lakukan di sini? Bagaimana kalau dia mengenaliku? Aku tidak ingin satu sekolahan tau tentang hal ini. Ku mohon jangan bicara dengan ku!!!. Aku sedikit menurunkan topi rajutan ku. Ingin sedikit menyamarkan wajah ku, walaupun itu sia-sia mengingat kecerahan ruangan ini.
"Apa anda tidak mendengarkan saya? Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda"
Sudah ku bilang JANGAN BICARA DENGAN KU!!! Aku tidak akan menjawab tau.
"Maaf,.apa anda tid.."
Brakkk..
Kalimatnya terhenti saat terdengar suara pintu yang di buka agak paksa.
"Aku menemukan beberapa saksi yang.. Hei,siapa kau?" Ray, itu Ray! Kau menyelamatkan ku Ray!
"Nama ku Leo, aku hanya ingin bicara dengan .."
"Ayo pergi kesana!" Kata ku memutuskan kalimatnya. Menuju ke arah pintu keluar. Dan si Leo itu ikut keluar. Ray menyuruh beberapa petugas berjaga di depan pintu dan tidak memperbolehkan siapapun masuk. Bahkan saat aku pergi ke tempat para saksi, si Leo macan itu mengikuti kami. Apa sih mau mu?
****
"Nama saya ella dan ini evi, kami berdua yang menemukan mayat tersebut"
Aku melihat mereka agak gugup. Benar juga, Siapa yang tidak gugup saat di introgasi?
"Apa saat itu kalian tidak melihat hal mencurigakan di sekitar toilet?" Yang bertanya adalah petugas khusus introgasi. Pak kanan namanya. Orangnya sangat tegas.
"Kami tidak melihat hal mencurigakan apapun,saat itu toilet sedang kosong" kata yang bernama ella,
"Eh tunggu dulu, saat itu kami melihat pria mabuk keluar dari toilet itu,tepat saat kami hendak masuk" kata gadis di sebelah kiri, evi.
Pria mabuk? Kemungkinan terjadi pembunuban saat mabuk cukup kecil, tapi bisa saja kan.
"Apa kalian ingat bagaimana wajahnya?" Aku bertanya dengan cepat sebelum pak kanan bertanya, dan sepertinya dia kesal.
"Tentu saja kami ingat, dia sangat tampan, iya kan la?" Si evi malah cengar cengir,membuat ella jadi ikutan. Pria mabuk yang tampan, jangan jangan itu si,Leo macan?
Karna itukah dia ingin bicara dengan ku?
"Kalian berdua yang di sana! Bawa kedua saksi ini untuk mencari pria mabuk yang di maksud. Dan segera bawa kemari" titah pak kanan tegas pada petugas muda di dekat pintu. Dan mereka berempat pun menghilang di balik pintu.
**** 
Author POV
Leo menegakkan kepalanya. Dia tidak ingin ketahuan menguping. Dia tau itu bukan hal yang baik, tapi ini demi masa depan sahabatnya.
Leo merasa Kevin akan di jadikan tersangka. Leo melihat dua petugas keluar dari ruang introgasi, di ikuti dua wanita. kemana mereka akan pergi?
"Jadi, bagaimana cara kita mencari lelaki itu?"
"Saya rasa kita bisa mencarinya di sudut-sudut ruangan,pak"
Leo terdiam, bakat mengupingnya berkembang cukup pesat. Dia yakin, yang mereka maksud adalah Kevin. Apa yang harus dia lakukan?
Leo melihat ke arah pintu. Nona detektif tadi keluar dari ruang manager yang di sulab menjadi ruang introgasi.
"Nona, tunggu sebentar" Leo menghentikan langkah gadis itu sebelum jauh. Dan gadis itu berhenti. Memandang Leo dengan tatapan tidak suka.
"Apa maumu?" Gadis itu berbicara dengan ketus.
"Aku mohon, tolonglah sahabat ku. Dia bukan pembunuh" Leo rela membuang harga dirinya di depan gadis ini, demi Kevin. Gadis itu hanya mengernyitkan alis.
"Kalau memang dia tidak bersalah,itu akan terbukti nanti" dan gadis itu berjalan meninggalkan Leo. Leo tidak akan menyerah, bukan Leo namanya kalau langsung menyerah.
"Jika di lihat dari mayatnya, tidak ada bekas darah. Pasti wanita yang menjadi tersangka" Leo mengikuti gadis tadi sambil mengungkapkan isi pikirannya, paling tidak dia sudah berusaha membantu penyelidikan sekaligus sahabatnya.
"Dan jika di perhatikan,ada sesuatu yang hilang dari barang milik korban. Mungkin itu hanya pencurian biasa"
"Dan dari pakaian korban, itu jelas bukan pelecehan atau pemaksaan"
"Serta,." Belum sempat Leo melanjutkan, gadis itu berhenti melangkah dan berbalik memandangnya.
"Jangan mengganggu penyelidikan, tuan sok pintar" dan gadis itu berjalan cepat, menuju ke arah toilet. Meninggalkan Leo yang terpatung.
*-*-*
Leo membuka pintu bertuliskan VVIP, di sana dia melihat Kevin yang sudah sadar dan duduk di tepi ranjang.
"Apa maksudmu mengurungku di sini?" Kata kevin sambil menggeram.
"Kau tidak ingat? Sama sekali?"
"Ingat apa?" Katanya sambil berteriak.
"Vin, maaf aku teman yang tidak berguna"
"Apa maksudmu?"
"Entah kenapa, sepertinya kau menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan" lalu Leo menjelaskan semuanya,saat Kevin masuk ke toilet perempuan. Sampai polisi datang.
Kevin terkejut,tentu saja. Dia langsung berdiri dari duduknya. Leo hanya menatapnya bingung. Kevin melangkah cepat menuju pintu kamar dan membuka pintu besar berwarna hitam. Pintu yang menghubungkan ke club.
" aku tidak membunuh siapapun!kalian gila? Kalian tidak tau siapa aku?" Kevin berteriak, tepat setelah membuka pintu. Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Membuat semua orang memandang ke arahnya, petugas polisi, dan semua pengujung tanpa terkecuali.
"Itu orangnya pak!" Leo mendengar suara wanita dari kerumunan pengunjung.
Leo yang ada di belakang kevin hanya bisa memijat kepala. Temannya satu ini sudah gila, tidak bisakah dia membaca situasi? Leo bisa melihat di sudut sana, di depan toilet, nona detektif hanya memandang mereka sekilas.
Kevin, hari buruk benar benar terjadi di hari ulang tahun mu..
TBC...
*-*-*
mohon maaf kalau terlalu pendek atau terlalu panjang, saya sudah berusaha sebaik baiknya membuat chap ini,, kedepannya saya akan berusaha lagi, thanks for read ;)
Arigatou gozaimasu,

Jumat, 10 Juli 2015

You Are Mr. Arrogant BAGIAN 1. TAKDIR DAN TRAGEDI



Sinopsis:

misteri, terkadang hidup seperti itu.
 bagaikan roda yang di putar kadang di atas. kadang di bawah.

-Kevin Antonio
anak mafia paling berpengaruh di kotanya. semua orang takut padanya,
 tapi untuk para gadis, dia bagaikan pangeran kegelapan yang menawan. 
-Leonardo Cristy
sahabat kevin sejak kecil, jika kevin pangeran kegelapan.
 maka Leo adalah pangeran cahaya. tampannya? jangan di tanya lagi!
-Stevanny silvie
anak detektif legendaris di kepolisian. dengan mewarisi bakat sang ayah,
 vanny sudah sering memecahkan kasus , sesulit apapun itu.

lucu, hidup selalu di sangkut pautkan dengan kebetulan. kalau begitu 
,apa itu takdir? kurasa itu adalah suatu kebetulan yang misterius.
kevin mendapat tuduhan sebagai tersangka utama kasus pembunuhan. 
tidak ada saksi mata, tidak ada alibi, tidak ada bukti.
bagaimana caranya agar Leo bisa menyelamatkan sahabatnya? . 
vanny yang tidak terpengaruh pesona kedua pangeran itu, 
membuat mereka berdua menaruh hati padanya.
 
 
BAGIAN 1. TAKDIR DAN TRAGEDI
 
Ini adalah cerita pertama saya, semoga suka semuanya, mohon dukungannya.
****
Malam itu, langit terlihat tak bersahabat. Tanah basah berlumpur, genangan air di trotoar, serta bunyi atap yang tertimpa hujan.
Malam hari terlihat sunyi, tapi tidak bagi kevin. Malam hari adalah saatnya beraksi. Kevin antonio. Anak tunggal dari bos mafia kejam, marcelli antonio yang bahkan di takuti kepolisian.
Kevin bersama sahabat dekatnya, Leonardo Cristy. Pergi ke salah satu club di bawah kekuasaan ayahnya.
Mencari kesenangan dengan meminum alkohol atau menggunakan narkoba. Kebisingan suara DJ dan gelabnya club sudah seperti makanan sehari hari.
Hari ini adalah hari special bagi kevin. Karena tepat pukul 12 nanti dia akan berusia 17 tahun. Dan sang ayah akan dapat mempercayakan lebih banyak kekuasaan padanya.
****
Pukul 11.00
"Vin, kamu yakin kita rayakan di sini?" Tanya Leo dengan nada tidak suka.
Kevin hanya tersenyum simpul kepada sahabatnya, dia sudah mabuk berat. Kesadarannya sudah hampir hilang.
"Kan udah aku bilang, ke rumah ku aja. Kamu bisa mabuk sesuka hati di sana" Leo sudah jengah melihat sahabatnya yang melirik ke arah gadis gadis dengan pakaian minim.
Kevin sama sekali tidak perduli. Dengan santainya dia menarik salah satu gadis ke pangkuannya. mencumbunya dengan rakus. Membuat Leo jijik dan mengalihkan pandangannya.
Tidak sengaja pandangan Leo bertemu dengan gadis yang sedang memandangnya. Leo terburu-buru membuang muka. Dia benci wanita berpakaian minim. Maksudnya, semua wanita yang ada di club malam. Dia benci dan merasa jijik.
Dan waktu terus berlalu,
****
Pukul 11.45
Kevin merasa perutnya mual. Dengan segera dia mendorong gadis yang ada di pangkuannya ke lantai dan berdiri dengan gontai. Gadis itu bahkan tidak protes,baginya di sentuh oleh orang seperti kevin membuatnya bangga.
Leo pun segera memapah pundaknya.
" kamu mau kemana? Pulang?"
Dengan gelengan pelan, dia menunjuk ke arah toilet dengan jarinya yang naik turun.
Leo mengangguk dan berusaha membantu sahabatnya. Tapi Kevin menolak dan mendorong Leo pelan.
"Aku, uk.. gak.. mabuk..uk. sendiri.. uk" Kevin melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah toilet.
Leo yang merasa tidak yakin hanya bisa mengikuti dari belakang.
Di toilet, Kevin bukannya masuk ke toilet laki-laki malah masuk ke toilet perempuan.
Leo yang melihat itu hampir lompat ke arah Kevin. Tapi ada seseorang yang menghalangi jalannya,
"anda ini, tuan leonardo cristy bukan? Anak dari Nyonya Maria cristy? Suatu keberuntungan tuan datang kemari" ternyata dia manager club.
Leo tidak mendengarkan apa kata orang di hadapannya. Dia terus melihat ke arah toilet perempuan. Kevin belum keluar juga dari sana.
Manager itu terus mengucapkan kata-kata bualan yang tidak penting. Membuat Leo kesal. Ibunya adalah seorang pengusaha sukses yang juga sahabat dari marcelli antonio.
Leo tidak heran kalau banyak orang yang mencari perhatian darinya. Hanya untuk dapat bekerja sama dengan perusahan CY interprise. CY adalah singkatan dari CristY. Nama perusahaan yang di kelola ibu Leo.
Dengan tidak sabar Leo mendorong manager tersebut . Membuatnya diam membisu di tempat. Leo tidak perduli. Sahabatnya lebih penting sekarang.
"Dasar si bodoh itu!" Geramnya dengan langkah terburu-buru, menabrak beberapa orang yang sedang lalu lalang.
****
Kevin memuntahkan semua isi perutnya. Kepalanya sedikit berdenyut . Dan pandangannya agak kabur . Sekali lagi kevin memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan di toilet.
Kemudian dia menarik dengan kasar tisu toilet hingga tisu terus berputar. Membiarkannya begitu saja, Kevin keluar dari bilik toilet.
Tanpa di sengaja dia bertabrakan dengan seorang gadis. Membuat tas gadis tersebut terjatuh dan menumpahkan isinya. Gadis tersebut terlihat agak kesal dan terkejut juga. Dengan segera dia memunguti barangnya kembali sambil menggerutu. Kesal karna kevin tidak membantunya,kan dia yang nabrak.
Kevin tetap berdiri dengan angkuh. Matanya terbuka tutup dengan pelan. Mabuknya cukup parah ternyata. Kevin menunduk, melihat rambut berwarna coklat yang di sanggul dengan beberapa anak rambut yang lepas. Memberikan kesan seksi.
Bajunya cukup minim tapi tidak ketat. Berwarna merah dengan beberapa corak hitam. Sepatu hak tinggi yang kevin tak tau apa merknya.
Gadis itu tiba tiba berdiri dan menatap langsung ke mata kevin.
"Dasar lelaki hina!" Teriak gadis itu dan langsung pergi meninggalkan kevin.
Kevin hanya memandangi punggung gadis itu dan menuju ke wastafel. Membasuh wajahnya yang terlihat kuyu. Tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya yang seperti dewa yunani.
'Gadis tadi buta ya, setampan ini di bilang hina. Dia yang hina, beraninya menabrakku.'
'Ah,sial. Aku tidak ingat wajahnya' batinnya memukul kaca wastafel.
Kevin memandangi wajahnya sekali lagi di wastafel dan menuju pintu keluar. Di luar dia berpapasan dengan beberapa gadis yang memandanginya dengan tatapan aneh. Seorang lelaki yang keluat dari toilet perempuan, sungguh mencurigakan.
Dan beberapa langkah, Leo sudah kembali memapahnya. Kali ini mereka tidak akan kembali ke tempat mereka tadi. Tapi menuju parkiran, lima menit lagi pukul 12. Dan si kunyuk kevin malah setengah sadar. Merepotkan saja, batin Leo.
KYAAAAAAA...
Langkah pelan Leo terhenti, Kevin masih lemas di pundaknya. Suara teriakan nyaring berasal dari toilet perempuan tepat di belakang Leo.
Beberapa orang pria dan wanita berlarian menuju toilet. Sedangkan yang lain masih asik menikmati kesibukan mereka.
Leo melihat manager aneh tadi hendak melewatinya.
"Bisa kau siapkan satu kamar VVIP sekarang juga?"
Manager tadi terpatung, menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan dirinya yang di ajak bicara.
"Sekarang juga!" Leo sudah tidak sabar, dia agak terganggu dengan bau tubuh sahabatnya, dan orang orang yang mengerumuni toilet semakin banyak, membutnya penasaran. Perasan Leo terasa tidak enak. Semoga tidak terjadi apapun.
"Baik tuan, mari saya antar"
manager tersebut menunjukkan jalan menuju sebuah pintu hitam besar yang di baliknya terdapat banyak pintu lagi di sisi kanan dan kiri. Kemudian memasuki kamar yang bertuliskan VVIP di pintunya.
Leo meninggalkan Kevin dalam kamar. Mengunci pintunya dari luar dan menuju toilet.
****
12.00
Leo,tercengan dengan apa yang di lihatnya. Seorang gadis terbujur kaku diatas dudukan toilet yang tertutup. Pakaian minim berwarna cream. Tas yang isinya berserakan, di bawah kakinya. Matanya melotot ke arah bawah. Tapi yang aneh dari semuanya adalah, tidak ada bekas darah.
Leo melihat garis merah di sekitar lehernya, pasti di cekik dengan semacam kain atau tali. Leo segera menghubungi polisi. Untuk pertama kalinya,Leo melihat pembunuhan di depan matanya. Dia sangat suka membaca buku misteri dan detektif. Sedikit rasa senang menghinggapinya.
Ah ,Leo ingat . Sekarang sudah pukul 12. Hei, kevin. Sepertinya awal dari umur 17 mu bukan lah hal yang baik.
****
Takdir yang kau tunggu, terkadang dapat berubah menjadi tragedi.
TBC....
****
Mohon voot dan komennya ya, :) jika banyak, saya akan lanjutkan, jika tidak mungkin akan saya updete cukup lama,
cover bab 1 adalah Leonardo Cristy.
Spoiler bagian 2.
Vanny memandangi mayat wanita itu. Cih, ini sangat mudah, katanya. Pembunuh amatir, cukup pintar, namun kurang rapi.
" aku melihat lelaki mabuk keluar dari toilet ini"
" aku tidak membunuh siapapun!kalian gila? Kalian tidak tau siapa aku?"
" aku mohon tolong dia, sahabat ku bukanlah pembunuh"
" jangan menghalangi penyeledikikan, tuan sok pintar!"